Rabu, 27 Mei 2015

Pantai Sulamadaha - Wisata Favorit Kota Ternate

Pantai Sulamadaha - Wisata Favorit Kota Ternate

Pantai Sulamadaha - Wisata Favorit Kota Ternate
Pantai Sulamadaha terletak di Desa Sulamadaha, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Pantai ini berpasir hitam namun pantai ini mempunyai pesona tersendiri dan merupakan objek wisata favorit Kota Ternate karena airnya yang sangat jernih belum tercemar dan mempunyai beragam ikan dan terumbu karang yang diantaranya merupakan spesies langka. Pantai Sulamadaha berhadapan langsung dengan Pulau Hiri. Pulau ini merupakan bukit dengan tumbuhan hijau yang menjadikan Pantai Sulamadaha semakin sejuk dan indah.

Selain ditemani oleh Pulau Hiri, di arah barat Pantai Sulamadaha terdapat Teluk Saomadaha. Di dasar perairan teluk ini terdapat taman laut menjadikan tempat ini merupakan spot yang cocok untuk diving dan snorkeling.



Pantai Sulamadaha - Wisata Favorit Kota Ternate


Teluk Saomadaha memiliki bentuk U. Tidak terlalu luas tapi memberi kesan private karena di sekeliling pantai ada tebing tinggi menjulang yang ditumbuhi pepohonan rindang. Dari tempat parkir Pantai Sulamadaha, pengunjung masih harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk mencapai teluk ini. Jadi pengunjung tidak akan menemukan mobil yang diparkir di pinggir pantai sehingga sungguh membuat pantai ini asri.


Jalan menuju Teluk Saomadaha sedikit menanjak dan sedikit menguras tenaga. Tapi semua itu terbayar ketika tiba di pantai ini. Pengunjung akan disambut dengan hamparan pasir putih, dan beningnya air laut yang bergadrasi warna hijau muda ke biru tua.

Jangan pernah ragu untuk berenang di pantai ini, kejernihan dan airnya nan sejuk membuat betah berlama-lama di dalam air. Yang menarik, di pantai ini pengunjung bisa berjalan hingga 20 meter ke tengah laut karena ada gugusan terumbu karang yang luas di pantai ini. Jika tidak bisa berenang, pengunjung bisa menyewa pelampung. Pengunjung juga bisa menyewa perahu dengan kapasitas 3-4 orang. Jangan khawatir dengan gelombang, bentuk pantai yang seperti huruf U ini membuat air laut pantai ini tenang.

Pengunjung bisa duduk sejenak di warung yang ada di pinggir pantai. Selain itu, juga terdapat fasilitas kamar mandi untuk bilas atau ganti baju. Pengunjung juga dapat sewa celana pendek atau alat snorkeling di tempat ini.

Akses
Pantai ini berjarak sekitar 14 km dari pusat Kota Ternate dan bisa dijangkau dengan mudah. Dari pusat Kota Ternate. Terdapat juga angkutan umum yang menuju Pantai Sulamadaha dengan lama perjalanan sekitar 30-45 menit. Di pantai ini anda juga bisa menyeberang ke Pulau Hiri menggunakan perahu yang disewakan.

Benteng Kastela - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Kastela - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Kastela adalah benteng peninggalan Portugis yang dikenal juga dengan nama Benteng Gamlamo. Benteng Kastela terletak di Jalan Raya Benteng Kastela Santo Paulo, Desa Kastela, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Lokasi benteng ini berada di sebelah utara kawasan wisata Pantai Kastela. 

Menurut catatan sejarah, setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511, Laksamana Alfonso d’Alburquerque mengirim Antonio de Abreu dan Francisco Serrao dengan armada yang terdiri dari tiga kapal ke Maluku pada Desember 1511. Dalam bulan Januari 1512, mereka tiba di Banda. Setelah beberapa waktu di Ambon, karena mengalami naas dengan karamnya kapal yang ditumpangi, kemudian Serrao dijemput utusan Sultan Ternate dan dibawa ke Ternate pada awal 1512.

Kedatangan Francisco Serrao di Ternate adalah kedatangan seorang pejabat pertama Eropa – dalam hal ini Portugis – dari sebuah program eksplorasi penguasa Portugis yang ambisius dan telah dimulai sejak pertengahan abad ke-15. Ekspansi Portugis ke Maluku dalam rangka menemukan Kepulauan Rempah-Rempah (the spice islands). Mereka seolah-olah berjudi dengan nasib dan mempertaruhkan segalanya dalam upaya memperoleh monopoli perniagaan rempah-rempah yang kala itu menjadi komoditas mewah di pasaran Eropa yang menjanjikan keuntungan yang fantastis. Kemudian mereka mempertahankannya dengan segala daya dan upaya, baik politik, ekonomi, maupun kekuatan militer sekalipun. 

Francisco Serrao adalah seorang fungsionaris Portugis pertama yang berhasil merundingkan hak-hak monopoli negerinya atas perdagangan rempah-rempah dan hak eksklusif pendirian benteng Portugis di Gamlamo dengan SultanTernate, Sultan Bayanullah (Boleif). 

Akhirnya, pada tahun 1520, Raja Portugis, Don Manuel, mengirim Jorge de Brito untuk membangun benteng Portugis di Gamlamo, Ternate, dan menunjuk adik Jorge de Brito, yaitu Antonio de Brito, sebagai komandan benteng tersebut. Benteng yang dibangun Portugis itu diberi nama Nostra Senhora de Rosario (Wanita Cantik Berkalung Bunga Mawar), tetapi lebih dikenal sebagai benteng Gamlamo oleh penduduk lokal, dan sekarang berubah nama menjadi benteng Kastela karena lokasinya yang berada di Desa Kastela. 

Benteng Kastela ini dibangun oleh Portugis secara bertahap selama kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Setelah menyelesaikan pembangunan benteng ini pada tahap awal, pada tahun 1521 Jorge de Brito kembali ke Goa (India Barat) namun belum sampai di sana ia telah tewas dalam salah satu pertempuran di Aceh. Kemudian dilanjutkan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525, pada tahun 1530 giliran Gonsalo Pereira yang melanjutkan pembangunan, hingga pada tahun 1540 benteng ini dirampungkan oleh Jorge de Castro. 

Hingga 1569, benteng Gamlamo merupakan satu-satunya benteng yang berdiri di luar Malaka. Setelah itu, baru dibangun benteng-benteng yang lain di Ambon, Jailolo, Moro (Tolo dan Samafo), Banda dan Makassar. Tetapi, benteng-benteng yang dibangun belakangan itu lebih mirip rumah kembar ketimbang benteng yang sesungguhnya. Pada benteng tersebut tidak terdapat seorang kapten yang diangkat Raja Portugis, seperti pada benteng Gamlamo di Ternate. 

Pada tanggal 27 Februari 1570, terjadi peristiwa pembunuhan Sultan Khairun Jamil dengan keji di benteng ini oleh Antonio Pimental atas perintah Diego Lopez de Mesquita, Gubernur Portugis ke-18, melalui tipu daya dan muslihat. 

Babullah, pewaris tahta Kesultanan Ternate, menuntut agar Diego Lopez de Mesquita diajukan ke pengadilan dan dihukum atas kejahatan pembunuhan. Ketika tuntutan ini ditolak, Babullah dan rakyat Ternate mengepung benteng Gamlamo selama 4 tahun (1574-1578) dan mengultimatum agar Portugis segera hengkang dari Ternate. Dalam kondisi yang seperti itu, mulailah evakuasi besar-besaran orang Portugis dari Ternate, mula-mula ke Tidore sebagai tempat transit, dan kemudian ke Goa. Ketika bala bantuan Portugis dari Goa dan Malaka tiba, keadaan sudah terlambat. Pimpinan armada Portugis hanya dapat menyaksikan puing-puing kekuasaan Portugis di Ternate. Gubernur berikut perangkatnya, misionaris dan orang-orang Portugis lainnya telah meninggalkan Ternate dengan meratapi kekalahan dan masa lampau mereka yang penuh kekerasan, arogansi dan pertumpahan darah. Mereka pergi dengan membawa serta kenangan buruk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa mereka harus menghadapi akhir kekuasaannya secara menyedihkan. 

Pada tahun 1606, Gubernur Spanyol Don Pedro da Cunha menyerbu dan menguasai benteng ini. Namun, sejak VOC melancarkan kegiatan niaganya secara intens, Spanyol ternyata tidak mampu bersaing dengannya dan hanya mampu bertahan karena kemurahan hati para Gubernur Belanda yang ada di Ternate. Oleh sebab itu, pada 1662 otoritas Spanyol di Manila memutuskan menutup garnisunnya di Maluku dan menarik kembali pasukan-pasukannya dari Maluku untuk menghadapi penyerbuan besar-besaran bajak laut Tiongkok yang akan mengambil alih Manila. Pada 1663, penarikan pasukan Spanyol dari Maluku dimulai, dan sebelum diberangkatkan ke Manila, pasukan Spanyol sempat membumihanguskan benteng Gamlamo agar tak direbut oleh Belanda. 

Benteng Kastela ini memiliki lahan seluas 2.724 m² dengan bentuk persegi empat, dan tersusun dari batu gunung dan batu kapur. Bagian-bagian benteng Kastela yang sekarang masih bisa diidentifikasi hanyalah bastion dan menaranya saja, sedangkan sisanya hanya berupa reruntuhan. Kendati demikian, benteng pertama peninggalan Portugis ini masih memperlihatkan sisa kemegahannya di atas puing-puing yang ada. 

Dulu, di dalam benteng ini terdapat sebuah lonceng buatan Perio Diaz Bocarro tahun 1603 yang didatangkan langsung dari Portugal. Ketika Portugis meninggalkan Ternate, lonceng bersejarah itu dipindahkan VOC dan digantung di pintu masuk Fort Oranje hingga 1950, dan sejak 1951 dipindahkan dan disimpan pada gereja Katolik (Gereja Batu) di Ternate. Tetapi saat ini lonceng tersebut telah ada lagi di tempat tersebut.

Benteng Kota Janji - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Kota Janji - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Kota Janji terletak di Jalan Ngade, Dusun Laguna, Desa Fitu, Kecamatan Ternate Selatan, Provinsi Maluku Utara. Lokasi benteng ini berada di pinggir jalan utama menuju Kota Ternate dari arah selatan. 

Berdasarkan sejarahnya, benteng Kota Janji ini dibangun pada tahun 1532 oleh Portugis dan diberi nama Benteng San Jao. Namun karena insiden pembunuhan Sultan Khairun dari Ternate, Portugis diusir dari Pulau Ternate oleh Kesultanan Ternate yang saat itu dipimpin oleh Sultan Babullah pada tahun 1575. Benteng ini kemudian dikuasai oleh pasukan Spanyol pimpinan Gubernur Don Pedro de Acuna yang datang dari Manila pada tahun 1606 yang ingin menguasai Pulau Ternate.

Pada tahun 1610, benteng ini diperkuat oleh Spanyol dengan menempatkan 27 prajuritnya dan 20 prajurit papangger (prajurit yang terdiri dari orang-orang Filipina) lengkap dengan 6 meriam beserta amunisinya. Benteng ini kemudian diberi nama Santo Pedro Y Paulo, untuk menghormati Gubernur Pedro. Benteng ini oleh Spanyol selain digunakan untuk mengawasi perairan antara Pulau Ternate dan Tidore, benteng ini juga memiliki peran sebagai basis militer. Jika kondisi laut sedang tenang, armada-armada Spanyol yang berlayar dari Filipina dapat berlabuh di pesisir pantai sebelah selatan dari benteng ini yang sekaligus dapat memudahkan untuk melakukan mobilisasi prajurit dan logistik mereka ke benteng ini.

Benteng yang berdenah trapesium ini berukuran 20 x 20 m berdiri di atas lahan dengan luas sekitar 2.147,25 m², dan berada pada ketinggian 50 m di atas permukaan laut. Benteng yang konon terbilang megah ini kini telah runtuh. Bagian benteng yang masih dapat disaksikan sekarang hanyalah bagian dinding luarnya yang tersusun dari batu kali (andesit), batu karang, dan campuran pasir dengan kapur, sedangkan bagian dalam sudah tertimbun dengan tanah. Pada sisi timur benteng, terdapat tangga yang mengarah naik ke atas benteng di mana di sekitar itu terdapat semacam kolam yang telah mengering.

Benteng ini di kemudian hari dikenal dengan sebutan Benteng Kota Janji hingga sekarang. Dinamakan benteng Kota Janji karena benteng ini pernah menjadi saksi perjanjian damai antara Sultan Khairun dengan Gubernur Portugis saat itu, Diego Lopes de Muspito. Akan tetapi Portugis ingkar, dan melakukan pengkhianatan dengan cara membunuh Sultan Khairun di Benteng Kastela yang tidak begitu jauh dari benteng Kota Janji ini.

Tahun 1989, benteng ini tampak terbengkalai dan dibiarkan begitu saja. Pengambilan pasir di sekeliling benteng juga diabaikan hingga terjadi abrasi dan sebagian besar benteng tergenang air laut. Baru pada 1994 silam, benteng ini kembali dipugar oleh Departemen pendidikan dan Kebudayaan sehingga kembali utuh tanpa mengurangi bentuk asli benteng.

Banyak keindahan alam yang bisa dinikmati di benteng yang di dalamnya terdapat 4 bastian dan sebuah sumur ini. View yang ditunjukkan dari benteng ini adalah hamparan pulau-pulau di depan Ternate. Salah satunya adalah pemandangan yang tergambar dalam uang kertas pecahan Rp1.000 yakni pulau Tidore dan Maitara.

Benteng Kota Janji - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng ini pernah direhabilitasi pada tahun 2004, namun sebatas menyelamatkan daerah yang menjadi kawasan cagar budaya dengan mempercantik kawasan tersebut sebagai salah satu tujuan wisata. Beberapa pagar dibangun untuk mengelilingi benteng dan taman, sedangkan wujud sesungguhnya benteng ini tidaklah terlihat lagi.

Benteng Kalamata - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Kalamata - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Kalamata adalah benteng yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1540, yang dapat Anda temukan di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Benteng Kalamata disebut juga Benteng Kayu Merah karena berada kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan. Awalnya benteng ini bernama Santa Lucia, tetapi kemudian dikenal dengan Benteng Kalamata.Kalamata sendiri berasal dari nama Pengeran Kalamata, yakni adik dari Sultan Ternate Madarsyah.


Sejarah
Benteng Kalamata pertama kali dibangun oleh orang Portugis (Fransisco Serao) pada tahun 1540 untuk menghadapi serangan Spanyol dari Rum, Tidore. Kemudian, benteng ini dipugar oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Both, pada tahun 1609. Benteng Kalamata diduduki oleh Spanyol pada tahun 1625 setelah dikosongkan Geen Huigen Schapen (Portugis). Setelah ditinggal Spanyol, benteng ini diduduki oleh Belanda. Kemudian benteng ini diperbaiki oleh Mayor Lutzow pada tahun 1799. Benteng Kalamata dipugar oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1994 dan diresmikan purna pugarnya pada tahun 1997. Pada tahun 2005, Pemerintah Kota Ternate merenovasi benteng ini dengan menambahkan halaman dan rumah untuk penjaga benteng.

Konstruksi
Benteng Kalamata didesain menyerupai empat penjuru mata angin yang memiliki empat bastion berujung runcing dan memiliki lubang bidik. Benteng Kalamata berada di garis pantai dan dari bagian belakang benteng terlihat pulau Tidore dan Maitara.

Fort Oranje - Wisata Sejarah Kota Ternate

Fort Oranje - Wisata Sejarah Kota Ternate


Fort Oranje dibangun pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1607 dan menjadi Pusat Pemerintahan VOC di Nederlansch Indie, sebelum dipindahkan oleh Coen ke Batavia pada tahun 1619. Fort Oranje juga digunakan sebagai kediaman Gubernur Belanda di Ternate pada masa itu.

Kekuatan Fort Oranje telah teruji dalam menahan serbuan Portugis & Spanyol di awal masa kolonialisme. Benteng ini juga menjadi pusat kontrol kegiatan perdagangan rempah-rempah VOC dan menjadi barometer kemakmuran penjajahan di masa lalu.



VOC membangunnya dengan standar kekuatan, mutu dan berorientasi jangka panjang. Hingga saat ini, benteng ini masih berdiri dan belum ada tanda-tanda keretakan dinding meski Kota Ternate termasuk wilayah yang rawan gempa.


Saat ini Fort Oranje masih digunakan sebagai markas tentara dan polisi di Indonesia, tetapi wisatawan masih diizinkan untuk melihat kemegahan benteng Belanda ini. Fort Oranje dapat Anda kunjungi di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Benteng Tolukko - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Tolukko - Wisata Sejarah Kota Ternate

Benteng Tolukko adalah benteng peninggalan Portugis yang berada di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Benteng Tolukko dibangun oleh seorang panglima Portugis yang bernama Fransisco Serao, pada tahun 1540. Benteng ini dibangun Portugis sebagai pertahanannya dalam menguasai cengkeh dan juga menguasai dominasinya di antara bangsa Eropa yang lain. Benteng ini diambil alih oleh Belanda pada tahun 1610 dan direnovasi oleh Pieter Both. Pada tahun 1864, oleh Residen P. van der Crab, benteng Tolukko dikosongkan karena sebagian bangunannya telah rusak. Pemerintah Republik Indonesia memugar benteng ini pada tahun 1996-1997. 

Konstruksi

Dahulu benteng Tolukko dikenal dengan nama Benteng Hollandia. Benteng Tolukko dibangun di atas fondasi batuan beku. Benteng ini terbentuk dari tiga buah bastion, ruang bawah tanah, halaman dalam, lorong serta bangunan utama berbentuk segi empat. Konstruksi bangunannya terbuat dari campuran batu kali, batu karang, pecahan batu bata yang direkat oleh campuran kapur serta pasir.

Provinsi Maluku Utara - Berbagai Objek Wisata di "Spice Islands"

Wisata

Provinsi Maluku Utara yang sering dikenal dengan singkatan "Malut" dan sebagai "Spice Islands" terdiri dari 395 pulau besar dan kecil. Pulau yang berpenghuni ada sebanyak 64 buah dan yang tidak berpenghuni sebanyak 331 buah. Ibukota Malut adalah Sofifi yang berada di Pulau Halmahera, sejak 4 Agustus 2010 menggantikan kota terbesarnya, Ternate yang berfungsi sebagai ibukota sementara selama 11 tahun untuk menunggu kesiapan infrastruktur Sofifi. 

Peta Provinsi Maluku Utara
Malut mempunyai banyak sekali Objek Wisata. Sehingga saat Anda mengunjungi Provinsi Maluku Utara, pastikan Anda sempat mendatangi Objek Wisata tersebut. Berikut adalah Objek Wisata berdasarkan Kabupaten dan Kota yang akan Anda kunjungi. Lebih detilnya Anda bisa meng-klik Link tersebut.



1. Kota Ternate
Kota Ternate merupakan kota kepulauan yang memiliki luas wilayah 547,736 km², dengan 8 pulau, yang terdiri dari: Pulau Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Maka, Pulau Mano dan Pulau Gurida. Terdapat banyak Objek Wisata yang menarik di Kota Ternate. Baca Selengkapnya >>




2. Kota Tidore (Kepulauan Soasiu)
Kota Tidore sudah terkenal sejak zaman penjajahan dahulu karena Cengkeh dan Pala. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Tidore adalah pelaut dari Spanyol pada tahun 1512. Tidore juga diperebutkan Bangsa Portugis dan Belanda. Tidore kaya akan peninggalan sejarah dan budaya serta memiliki wisata bahari yang sangat menarik bagi para traveller. Baca Selengkapnya >>




3. Kabupaten Halmahera Barat (Jailolo)
Halmahera Barat terkenal dengan dengan kekayaan rempah-rempahnya yang melimpah dan kekayaan budaya maupun alamnya baik di darat dan laut yang memesona para wisatawan dalam dan luar negeri. Baca Selengkapnya >>




4. Kabupaten Halmahera Tengah (Weda)
Kabupaten Halmahera Tengah terletak di Pulau Halmahera dan memiliki 37 pulau kecil dimana hanya ada dua pulau yang memiliki penduduk yaitu Pulau Gebe dan Pulau Yoi. Kabupaten Halmahera Tengah didominasi oleh daya tarik wisata alam dan bahari. Keberagaman dan kekhasan flora dan fauna baik di laut maupun hutan yang dimiliki Halmahera Tengah menjadi keunggulan daya tarik wisata daerah ini. Baca Selengkapnya >>


Provinsi Maluku Utara - Berbagai Objek Wisata di "Spice Islands"



5. Kabupaten Halmahera Utara (Tobelo)

Halmahera Utara dapat ditemui berbagai objek wisata. Panorama pesisir pantai yang berpasir putih, pesona taman laut, hamparan pulau-pulau, keanekaragaman hayati dan masih banyak lagi keindahan alam yang belum tereksplorasi. Selain itu, Halmahera Utara juga merupakan zona nostalgia perang dunia kedua yang memiliki peran strategis pada saat itu. Beberapa artefak sisa perang dunia kedua, seperti meriam artileri, bangkai kapal perang, kendaraan ampibi, landas pacu serta bunker perlindungan masih dapat ditemukan di wilayah ini. Baca Selengkapnya >>

Tempat Wisata HALMAHERA UTARA yang Wajib Dikunjungi (Provinsi Maluku Utara)


6. Kabupaten Halmahera Selatan (Labuha)

Wisata Halmahera Selatan tidak terlepas dari Sejarah Kesultanan Maluku Utara. Sehingga masih terdapat benda bersejarah seperti Keraton, Mesjid, Mahkota Sultan, Benteng pertahanan peninggalan bangsa Portugis dan Belanda. Selain itu, Halmahera Selatan juga terkenal dengan Wisata Alam dan Baharinya. Beragam Flora dan Fauna juga mewarnai Kabupaten Halmahera Selatan. Baca Selengkapnya >>

Tempat Wisata HALMAHERA SELATAN yang Wajib Dikunjungi (Provinsi Maluku Utara)


7. Kabupaten Halmahera Timur (Maba)

Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) dulunya pernah menjadi basis perjuangan Sultan Nuku dari Kesultanan Tidore untuk melawan Belanda. Pada masa perjuangan tersebut, Maba menjadi salah satu pusatnya. Selain itu, pada zaman Perang Dunia II, Haltim juga merupakan salah satu pos pasukan Jepang sehingga hingga saat ini Anda masih bisa menemukan benda bersejarah tersebut. Haltim bukan hanya terkenal dengan wisata sejarah saja, namun memiliki beragam wisata alam dan bahari yang akan membuat Anda tertarik untuk menjelajahi Halmahera Timur. Baca Selengkapnya >>

Tempat Wisata HALMAHERA TIMUR yang Wajib Dikunjungi (Provinsi Maluku Utara)


8. Kabupaten Kepulauan Sula (Sanana)
Kabupaten Kepulauan Sula terletak paling selatan di wilayah Maluku Utara. Jarak dari Kota Ternate ke Sanana adalah sekitar 284 km yang dapat ditempuh melalui penerbangan udara dan pelayaran laut. Perjalanan yang cukup jauh ke Kepulauan Sula tidak membatasi minat turis asing untuk mengunjungi daerah ini karena kaya dengan wisata alam, bahari, sejarah, seni dan budayanya. Baca Selengkapnya >>




9. Kabupaten Pulau Morotai (Daruba)
Kabupaten Pulau Morotai di bagian paling utara Provinsi Maluku Utara. Pulau Morotai terkenal dengan wisata bahari, alam dan sejarah peninggalan Perang Dunia II sehingga tidak heran daerah ini banyak didatangi turis lokal maupun mancanegara. Pulau Morotai semakin terkenal melalui program Pemerintah Daerah setempat dengan menggelar Sail Morotai pada tahun 2012. Baca Selengkapnya>>

Tempat Wisata PULAU MOROTAI yang Wajib Dikunjungi - Provinsi Maluku Utara



10. Kabupaten Pulau Taliabu (Bobong)
Kabupaten Pulau Taliabu merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sula pada tahun 2012. Pulau Taliabu terdapat banyak spot diving yang menarik, memiliki pantai yang indah dan disertai panorama alam yang menyegarkan jiwa. Di Pulau Taliabu juga terdapat Cagar Alam Taliabu yang merupakan tempat yang sangat cocok untuk eksplorasi flora dan fauna. Suku Mange adalah suku asli di Pulau Taliabu yang biasanya hidup berpindah-pindah, namun saat ini sebagian sudah mulai hidup menetap seiring perkembangan jaman. Baca Selengkapnya>>



NB: Untuk telekomunikasi, hanya jaringan Telkomsel dan Indosat yang tersedia di Provinsi Maluku Utara saat ini.